Tidak sedikit anak remaja zaman sekarang penyuka K-Pop. Bahkan kalian para-para penggemar K-Pop tentunya tidak asing lagikan mendengar lagu-lagu Korea yang populer dibawakan oleh BTS, TWICE ataupun SNSD. Tetapi, yang ingin saya tanyakan disini, seberapa kenal sih kalian pada msuki Korea, termasuk musik tradisional di dalamnya? Dan apa yang kalian bayangkan jika mendengar kata musik tradisional Korea ini? Yaps, pastinya tidak banyak dari kita yang mengetahui kata-kata seperti inikan “Beragam dan kaya, musik tradisional Korea mengekspresikan semangat optimis yang mengubah kesedihan dan keputusasaan menjadi kegembiraan dan kesenangan”.

Nah, kali ini kita akan membahas tentang Musik Tradisional Korea, bukan K-Pop ya gaesss…. Jika Anda ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang musik tradisional Korea, yuk langsung aja kita simak ulasannya di bawah ini…

Sejarah Perkembangan Musik Korea

Musik Korea, seni yang berkaitan dengan menggabungkan suara vokal atau instrumental untuk keindahan bentuk atau ekspresi emosional, khususnya seperti yang dilakukan di Korea atau semenanjung Korea, di mana tradisi pribumi yang kuat telah dipengaruhi oleh Cina dan Mongol.

Musik awal rakyat Korea diketahui dimainkan sebagai bagian dari upacara dan penyembahan kepada dewa-dewa. Umumnya, bukti-bukti tersebut berasal dari sumber-sumber tertulis Cina kuno. Karena Semenanjung Korea menjorok dari benua Asia bagian Timur laut, rakyat Korea telah melakukan pertukarang yang aktif sejak lama dengan bangsa Cina, Mongol, Jepang, Siberia dan Asia Tengah yang ikut memengaruhi kesenian mereka. Dan berikut inilah perkembangan musik Korea:

Tiga Kerajaan (57 SM-668 M)

Rakyat Korea dikenal pandai menyanyi dan menari sejak zaman kuno. Catatan pertama yang merekam tentang kegemaran rakyat Korea bermusik adalah kitab sejarah Cina abad ke-3, San Guo Zhi. Bangsa Cina kuno menyebut nenek moyang orang Korea dalam artikel tulisan yang berjudul “Barbarian dari Timur” atau Dong-yi. Dalam catatan tersebut tertulis:

“ Setelah musim tanam selesai pada bulan ke-5, mereka selalu melakukan ritual menyembah dewa-dewa dengan membentuk kelompok, menari dan minum sampai malam tanpa istirahat. Alat musik yang mereka gunakan adalah lonceng yang dipukul seperti yang digunakan di Cina untuk menari. Pada bulan Oktober, setelah selesai panen, mereka akan mengulangi ritual yang sama. Setiap desa memberikan persembahan kepada dewa-dewa dengan petunjuk seorang pemimpin yang dinamakan cheonggun, yang dipilih oleh warga desa sendiri. ”

Goguryeo (37 SM-668 M)

Rakyat kerajaan Goguryeo, yang tinggal di sebelah utara Semenanjung Korea dan Manchuria, dikenal pada zaman Cina kuno akan kemahiran menyanyi dan menarinya. Bangsawan Dinasti Sui dan Tang menyukai orkes musik dan tarian Goguryeo. Alat musik yang dimainkan di Goguryeo antara lain suling yang dinamakan piri dan mandolin bersenar 5 yang dinamakan pipa yang diperkenalkan dari Asia Tengah. Seorang perdana menteri bernama Wang San-ak menulis ratusan buah lagu berdasarkan permainan alat musik Cina dan menemukan kecapi petik yang dinamakan geomungo.

Silla (57 SM-668 M)

Di kerajaan Silla, alat musik petik bersenar 12 yang dinamakan gayageum dari Kerajaan Gaya menjadi terkenal. Masyarakat Silla menikmati lagu-lagu religius bertema agama Buddha maupun sekuler. Musik asli mereka dinamakan hyang-ak dan mendapat pengaruh musik Asia Tengah. Seorang musisi terkenal bernama Baek Gyeol menciptakan karya lagu Banga Taryeong yang sampai sekarang masih dinyanyikan.

Baekje (16 SM-660 M)

Musik dari kerajaan Baekje, negeri di sebelah barat daya Semenanjung Korea, kurang begitu dipahami. Namun diperkirakan, musiknya dipengaruhi oleh musik Cina. Berdasarkan catatan kuno, salah satu nomor musik istana yang masih dimainkan sampai saat ini, sujecheon (harfiah:”hidup abadi bagai surga”) didasarkan dari musik kuno Baekje yang berjudul jeong-eup-sa atau kota Jeong-eup.

Gaya

Kerajaan Gaya paling dikenal akan kontribusinya terhadap penemuan alat musik petik bersenar 12. Alat musik ini menyebar ke berbagai kerajaan lain di sekitarnya dan dikenal dengan nama kecapi gaya atau gayageum.

Silla Bersatu (668-935)

Rakyat Silla Bersatu menikmati seni suara yang dinamakan hyangga atau musik asli. Hyangga ditulis berdasarkan lirik yang bernuansa Buddhisme yang berisi doa dan puji-pujian kepada Buddha. Tema lainnya adalah tentang sekuler dan kehidupan sehari-hari. Hyangga mencerminkan kesenian religius dan sentimen rakyat Silla Bersatu.

Dinasti Goryeo (935-1392)

Pada masa Dinasti Goryeo, musik Cina (dang-ak) dan musik upacara (Aak) berkembang pesat bersamaan dengan musik asli (hyang-ak). Musik ritual ditampilkan dalam upacara keagamaan Konfusius bersama tari-tarian. Berbagai jenis alat musik baru diciptakan atau diperkenalkan dari Cina. Jenis alat musik yang populer adalah gayageum, geomungo dan janggo.

Dinasti Joseon (1392-1910)

Musik pada masa Dinasti Joseon dibagi menjadi 2 jenis, yakni musik istana (jeong-ak) dan musik rakyat (minsok-ak). Rakyat kelas atas dan istana mendengarkan musik istana, yang terdiri dari musik Cina (dang-ak), musik asli Korea (hyang-ak) dan musik ritual Konfusianisme (a-ak).

Periode terpenting bagi bidang musik pada masa Dinasti Joseon adalah masa pemerintahan Raja Sejong yang Agung (1418-1450). Kontribusi Raja Sejong terhadap perkembangan musik Korea dianggap monumental seperti prestasinya dalam bidang politik dan ilmu pengetahuan. Ia mengembangkan sebuah pipa bambu yang dinamakan yulgwan untuk menandai pola titinada musik Korea, mendesain ulang alat musik, menciptakan musik baru dan menciptakan jeongganbo, sistem notasi musik pertama di Asia Timur.

Pada akhir periode Dinasti Joseon, popularitas musik istana semakin menurun, sementara itu musik rakyat dan drama tradisional seperti pansori dan changgeuk, berkembang pesat. Musik rakyat mulai diwariskan dari generasi ke generasi. Seni suara yang didasarkan dari lirik penyair terkenal seperti Kim Cheon-taek dan Kim Su-jang mulai populer di antara kaum bangsawan terpelajar.

Musik religius seperti musik agama Buddha dan Shamanisme juga semakin memengaruhi genre musik rakyat Korea pada masa ini. Musik agama Buddha mengalami kebangkitan, antara lain dengan populernya permainan nomor musik yeongsan hoesang, musik religius yang terinspirasi dari peristiwa khotbah Buddha di gunung Gridhrakuta di India. Bentuk syair yang berasal dari zaman Dinasti Goryeo, sijo, semakin digemari. Sijo adalah syair pendek yang dilantunkan bersama permainan alat musik.

Korea Utara dan Korea Selatan

Karena Korea telah terbagi lebih dari setengah abad, musik tradisional yang diwariskan antara kedua negara telah menjadi cukup berbeda. Musisi Korea Selatan meyakini musik harus melampaui batas politik dan mencapai kemurnian yang tidak menyampaikan pesan propaganda. Musisi Korea Utara pun berpendapat bahwa musik harus melampaui politik namun untuk tujuan yang berbeda. Walaupun memiliki pandangan yang hampir sama mengenai musik, tujuan dan metode yang mereka kembangkan tidak sama.

Di Korea Utara, tidak ada istilah guk-ak (musik tradisional) dan jeon-tong eum-ak juga tak pernah digunakan. Jenis-jenis musik tradisional yang dikenal di Korea Selatan seperti jeong-ak (musik istana), pansori (opera tradisional), musik rakyat dan sanjo (permainan musik solo) tidak dikenal di Korea Utara. Jenis musik tradisional yang dipentaskan di Korea Utara hanya minyo atau nyanyian rakyat. Namun, minyo di Korea Utara tidak dinyanyikan dengan gaya tradisional, melainkan dengan gaya modifikasi yang diiringi aransemen permainan alat musik tradisional yang direvisi dan musik barat. Semua alat musik tradisional kecuali alat musik perkusi telah mengalami rekonstruksi. Kim Il-sung dalam “Karya-karya pilihan Kim Il-sung, Volume 4, Halaman 154” menuliskan

“Dalam upaya untuk memodernisasikan musik kita, kita harus mempertimbangkan untuk memodifikasi alat musik yang tersedia. Tidaklah mungkin untuk memodernisasikan musik nasional kita dengan alat musik Korea yang kuno, atau cukup mengekspresikan etos pekerja negara kita.”

Pernyataan Kim Il-sung ini merupakan awal dari modifikasi alat musik di Korea Utara. Semua alat musik disesuaikan dengan skala musik barat dan skala 7 not dimodifikasi agar mudah untuk dimainkan. Orang Korea Utara menganggap suara “kasar” alat musik tradisional sebagai suara yang “kotor”, sehingga mereka membersihkannya dan membuatnya jelas. Mereka juga memperluas jangkauan alat musik tradisional, sehingga satu jenis alat musik dapat memainkan jenis musik yang berbeda-beda.

Musik Tradisional Korea yang dikatakan Menyanyikan Kegembiraan dan Kesedihan Rakyat Korea

Musik tradisional Korea atau folk (disebut “gukak” dalam bahasa Korea) telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak zaman kuno. Gukak memiliki banyak ciri yang berbeda, dari elemen paling dasar dari musik hingga nada dan formatnya. Meskipun dipengaruhi oleh instrumen dan musik China, musik tradisional Korea memiliki kepribadian musik yang unik dan berkembang dengan baik, yang telah menyerap karakteristik dan preferensi musik orang Korea selama lebih dari satu milenia.

6 Perwakilan Alat Musik Tradisional Korea

Alat musik tradisional Korea terbuat dari berbagai bahan alam seperti kayu dan metal. Jumlah alat musik Korea yang masih digunakan sampai saat ini mencapai 65 jenis. Beberapa diantaranya berasal dari Cina dan hanya digunakan pada acara upacara keagamaan. Orang Korea menyebut alat musik petik menghasilkan “celah-celah sempit” saat dimainkan atau yang disebut oleh musisi sebagai bagian “rehat” dari suara, terutama pada saat memainkannya dalam tempo lambat secara solo. Berikut inilah beberapa perwakilan dari 65 jenis alat musik tradisional Korea:

1. Gayageum (kecapi Korea dua belas senar)

Jika orang Indonesia mengenal kecapi, orang Korea mengenal Gayageum. Bisa kamu lihat sendiri, bentuknya pun sangat mirip dengan Kecapi asal Jawa Barat, Indonesia. Alat musik tradisional ini ternyata sudah mengalami banyak modifikasi. Gayageum merupakan kecapi yang memiliki 12 senar. Kecapi ini diciptakan pada abad ke-6 di Kerajaan Gaya. Jenisnya terdiri dari dua menurut musik yang dihasilkannya, yakni sanjo dan jeongak. Sanjo gayageum digunakan untuk pementasan musik solo dan Jeongak gayageum untuk pementasan musik orkestra.

2. Danso (bamboo vertical Korea oboe)

Danso merupakan jenis suling vertikal yang memiliki 5 buah lobang dan bisa dimainkan secara solo (sanjo) atau dalam pementasan orkestra (jeongak).

3. Piri (bambu double buluh bambu Korea)

Piri merupakan suling yang serupa dengan hyangpiri, namun lebih ramping dan volume suaranya lebih kecil.

4. Haegeum (biola vertikal Korea dua senar)

Haegeum merupakan rebab bersenar dua yang berasal dari Cina seperti erhu, xiqin dan erxian. Masyarakat Korea bangga dengan memiliki Haegeum.

5. Daegeum (seruling bambu Korea)

Daegeum merupakan suling besar yang berasal dari zaman Silla Bersatu bersama Sogeum dan Junggeum. Daegeum terdiri atas Sanjo dan Daengok.

6. Geomungo (sitar bass Korea enam senar)

Geomungo merupakan kecapi bersenar 6 yang diciptakan di kerajaan Goguryeo. Jenis geomungo dibagi dua, yakni sanjo geomungo untuk permainan solo dan jeongak geomungo untuk orkestra. Selain itu, ada pula jenis alat musik yang dimainkan dalam pementasan di istana dan tempat ibadah.

Nah, jadi orang Korea itu selalu menikmati lagu dan tarian nya. Catatan sejarah Tiongkok kuno juga menyatakan bagaimana “orang-orang Timur suka minum anggur, bernyanyi dan menari,” dan bagaimana “Orang-orang melakukan perjalanan di jalanan siang dan malam, dan bunyi nyanyian berlangsung tanpa akhir karena mereka suka menyanyi.” “Orang Timur” di sini berarti yaitu orang Korea. Tentu saja, lagu-lagu Korea pada waktu itu tidak lagi sama dengan saat ini dalam format yang sama persis, tetapi kegemaran Korea untuk bernyanyi dan menari, yang disebut “sinmyeong” dalam bahasa Korea, tetap sama kuatnya saat ini seperti yang terjadi berabad-abad yang lalu.

Sinmyeong, Akar dari Semangat Optimis yang Mengubah Kesedihan menjadi Kegirangan

Musik tradisional Korea sangat luas dan mendalam dalam hal genre dan makna. Ada musik petani, yang mengekspresikan kehidupan petani melalui ritme yang menyenangkan; pansori (Korean Solo Opera Music) dan talchum (tari topeng), kaya parodi dan humor; musik pengadilan yang megah dimainkan di acara-acara penting di istana kerajaan; dan musik standar (disebut “jeongak” dalam bahasa Korea) seperti gagok, yeongsan hoesang dan sijo yang mewujudkan semangat elegan dan halus dari seonbi (intelektual dari Dinasti Joseon). Musik religius seperti beompae Buddha dan musik ritual perdukunan juga merupakan bagian dari kanon musik tradisional Korea, menambahkan keragaman dan kekayaan khusus.

Kesalahpahaman utama tentang gukak adalah bahwa itu lambat, sedih dan suram. Ini adalah pandangan yang keliru sama sekali, karena tidak ada lagu sedih sama sekali dalam genre standar gukak. Genre standar musik tradisional Korea didasarkan pada gagasan untuk tidak mengungkapkan kesedihan dengan cara yang menyedihkan. Inilah mengapa musik terdengar kuat, cerah dan harmonis. Di sisi lain, ada banyak lagu dalam genre rakyat yang memiliki nada sedih. Susimga, Yukjabaegi, Heungtaryeong, Sanjo, Sinawi merupakan lagu-lagu yang sangat sedih yang diketahui memicu aliran air mata yang tak ada habisnya.

Namun pada saat yang sama ritme energik dan menular dari lagu-lagu ini memaksa pendengar untuk bangkit dan menari. Ini karena sifat dasar orang Korea tidak didasarkan pada “han” (kebencian, kesedihan), tetapi pada “heung” (kegembiraan). Menari untuk lagu-lagu sedih dan menciptakan suasana enerjik dan bersemangat bahkan saat bernyanyi kesedihan hidup adalah aspek yang paling menarik dari musik tradisional Korea serta dasar dari jiwa Korea dan sinmyeongnya.

Pertemuan tradisional dan modern, Timur dan Barat: Evolusi baru Musik Tradisional Korea

Baru-baru ini, musisi muda gukak mulai melakukan fusion gukak, yang menggabungkan unsur-unsur musik tradisional Korea dengan genre modern. Dalam sebuah fusion “band,” vokal dilakukan oleh penyanyi pansori, sedangkan instrumennya terdiri dari instrumen tradisional Korea seperti ajaeng, gayageum, geomungo, buk dan instrumen Barat seperti gitar dan piano. Musik yang dihasilkan adalah bentuk baru dari gukak yang telah dirancang agar sesuai dengan selera pecinta musik modern. Dengan meningkatnya perhatian dan popularitas, para musisi ini membuka jalan baru untuk musik Korea.

Samulnori, bentuk gukak yang paling terkenal, terdiri dari empat alat musik: buk (drum), janggu (drum jam pasir), jing, dan kkwaenggari. Instrumen-instrumen ini bergabung untuk menciptakan bentuk musik dan pertunjukan yang enerjik. Samulnori bukanlah genre musik tradisional; melainkan dimulai pada tahun 1978 oleh empat musisi gukak muda yang dipimpin oleh Kim Duk-soo. Ini adalah contoh bagaimana musik tradisional Korea telah diubah menjadi genre modern.

Sebuah format musik yang telah mengambil heung samulnori selangkah lebih maju adalah grup pertunjukan Nanta. Nanta menggunakan ritme samulnori sebagai dasar dari penampilan komik, dramatis dan tanpa kata-katanya yang diatur dengan latar belakang dapur restoran. Karena tidak ada kata-kata, semua dapat sepenuhnya menikmati cerita dan irama musik. Dimulai pada tahun 1997, Nanta telah membuat catatan kinerja yang luar biasa di seluruh dunia. Cukup populer untuk memiliki aula pertunjukan sendiri di Broadway, rumah musikal modern, Nanta terus memenangkan penonton baik di Korea maupun di negara-negara di seluruh dunia.

Sama seperti semua genre seni lainnya, musik bukanlah entitas yang tetap atau tidak berubah tetapi ekspresi kehidupan sehari-hari dari suatu periode tertentu dalam waktu. Musik tradisional Korea, yang telah ada selama ribuan tahun, terus berkembang saat ini melalui perpaduannya dengan musik Barat.

Well, itulah sedikit pembahasan kita mengenai Musik Tradisional Korea. So, kalian udah taukan bahwa musik tradisional ini dapat mengubah kesedihan dan keputusasaan menjadi kegembiraan dan kesenangan. Jadi jangan hanya dengar K-pop doang, dengerin juga musik tradisional nya, dijamin deh bermanfaat….

This is a Sidebar position. Add your widgets in this position using Default Sidebar or a custom sidebar.